PENGEMBANGAN INDEKS KOMPETENSI PETUGAS KESEHATAN DALAM MELAKSANAKAN PROVIDER INITIATED HIV TESTING AND COUNSELING (PITC) DI PUSKESMAS KABUPATEN JEMBER

Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak orang dengan HIV-AIDS yang membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan tes sukarela yang dilakukan untuk mengetahui status HIV seseorang, tetapi pemanfaatan layanan VCT di Indonesia masih rendah, terbukti kurang dari 10% jumlah ODHA yang terdeteksi dengan program tersebut. Untuk meningkatkan cakupan deteksi HIV, dikembangkan tes HIV yang inisiatifnya bukan berasal dari klien melainkan dari tenaga kesehatan yang disebut Provider Initiated HIV Testing and Counseling (PITC). Mengingat pentingnya peran petugas Kesehatan di Puskesmas untuk mendeteksi kasus HIV, diharapkan petugas kesehatan (dokter, perawat, dan bidan) yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan berbeda memiliki kompetensi yang sama dalam menerapkan pelayanan PITC. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu instrumen yang dapat mengukur kompetensi petugas kesehatan pada pelaksanaan PITC di Puskesmas.

Ide tersebut mendasari penelitian disertasi Faiqatul Hikmah, S.KM., M.Kes. untuk menyusun indeks kompetensi sekaligus mengembangkan instrumen pengukuran kompetensi petugas kesehatan Puskesmas di Kabupaten Jember dalam melaksanakan PITC.

Penelitian dilakukan di 30 puskesmas di Kabupaten Jember dengan populasi petugas kesehatan

yang bertugas melaksanakan PITC di seluruh Puskesmas Kabupaten Jember, serta pasien yang telah mendapatkan PITC di seluruh Puskesmas Kabupaten Jember. Besar sampel 120 petugas kesehatan dan 120 pasien yang mendapat penawaran PITC. Penelitian pada pasien yang mendapatkan pelayanan PITC dilakukan untuk menilai kepuasan pasien pada pelayanan PITC.

Dari hasil pengumpulan dan analisis data berhasil dikembangkan indeks kompetensi petugas Kesehatan dalam melaksanakan PITC yang terdiri dari   5 sub-indeks dan 11 indikator. Sub-indeks dan indikator tersebut terdiri dari : 1) pengetahuan HIV dan konsep PITC yang tersusun dari 2 indikator yaitu pengetahuan tentang HIV dan pengetahuan tentang konsep PITC; 2) sikap

petugas kesehatan pada pelaksanaan PITC; 3) kemampuan komunikasi yang terdiri dari 2 indikator yaitu kemampuan membina hubungan dengan pasien dan kemampuan komunikasi non-verbal; 4) kemampuan melaksanakan PITC yang terdiri atas 4 indikator yaitu kemampuan pratest, kemampuan memperoleh informed consent, kemampuan postest, dan kemampuan merujuk; dan 5) kemampuan mendokumentasikan PITC yang terdiri atas 2 indikator yaitu kemampuan identifikasi risiko HIV pasien dan kemampuan menyiapkan, mengisi, dan menyimpan dokumen PITC. Berdasarkan 5 sub-indeks dan 11 indikator tersebut dirumuskan formula indeks kompetensi petugas kesehatan pada pelaksanaan PITC.

Dari hasil penghitungan skor indeks kompetensi yang dikembangkan, diketahui bahwa sebagian besar petugas kesehatan di Puskesmas memiliki kompetensi yang cukup dalam melaksanakan PITC. Hal ini sesuai dengan kepuasan pasien pada pelayanan yang dilihat dari hasil Customer Satisfaction Index (CSI) diperoleh nilai 66,73 yang menunjukkan tingkat kepuasan kurang. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara skor indeks kompetensi dengan kepuasan pasien. Langkah lebih lanjut penelitian ini adalah dikembangkannya instrumen pengukuran kompetensi berdasarkan indikator dan formula indeks yang diperoleh. Dengan instrumen pengukuran ini, di samping diketahui tingkat kompetensi petugas, juga dapat diketahui pada aspek dan indikator mana yang masih kurang, sehingga dapat ditingkatkan melalui kegiatan pendidikan atau pelatihan.

Hasil penelitian disertasi ini dipertahankan dalam Ujian Doktor Terbuka pada tanggal 16 Maret 2023 dan mengantarkan Faiqatul Hikmah memperoleh gelar Doktor di bidang Kesehatan Masyarakat.

Leave a Reply